Larry Green

Seorang fotografer yang menekankan ambiguitas dalam media yang dikenal presisi, karya Cameron terus menimbulkan pertanyaan penting.

Julia Margaret Cameron awal Cameron menatap kecantikan—kecantikan pengasuhnya, kepekaannya dalam menangkapnya, pesona fisiknya Esa, dan, tentu saja, di mana ia sia-sia mengerjakan cita-cita estetika tertentu. Diwaktu, pada tahun 1926, Kelompok Bloomsbury-selebriti Virginia Woolf dan Roger Fry menulis penaksiran pertama yang sungguh-sungguh bagi fotografi Julia Margaret Cameron, Fry berkomentar, Keelokan merupakan masalah segenap hati bagi Istri Cameron dan pengasuhnya yang cantik.” Woolf pula mendefinisikan Cameron dengan sifat ini, separo berbeda dengan sistematika Victoria-nya: “dari ibunya, mungkin, dia terkena kecintaannya pada keanggunan dan ketidaksukaannya pada konvensi masyarakat Inggris yang dingin dan formal.” Woolf bahkan mengklaim bahwa, di akhir kehidupan Cameron, dia berbaring menjelajahi atmosfer berbintang, diwaktu dia “menghembuskan satu kata, ‘Cantik,’ dan mati.”

Kapasitas pendek Woolf and Fry berjudul Victorian Photographs of Famous Men and Fair Women. Seperti maksim di atas, judul tertera dapat dibaca dan dipersetujui secara penaksiran netral atau positif dari karya Cameron. Namun Woolf, cakap seperti dia, mungkin telah mengulas penjelasan gender yang mengelilingi Cameron dan karyanya dengan bermain dengan saran Istri adil” dan keelokan itu sendiri.

Victoria Olsen, penyalin biografi Cameron dan penyalin From Life: Julia Margaret Cameron & Victorian Photography, Heran dalam satu buah wawancara dengan Art & Object, “[Dengan] judul itu, apakah Woolf sebentar masam atau sarkastik? Apakah dia mendorong ide bahwa kecuali itu yang dilakukan Cameron? Atau apakah dia setuju dengan anjuran bahwa ini yaitu hawa cantik dan laki laki terkemuka dan penting?

Julia Margaret Cameron (née Pattle), sekarang dipercaya seandainya salah satu fotografer awal yang paling Gawat, senantiasa bersila di perempatan seni, teknologi, dan keindahan yang tidak nyaman dan tidak Benar. Ia lahir di Calcutta pada tahun 1815 dari pasangan Adeline de l’Etang, yang berpangkal dari bangsawan Prancis (dan dinasti rumpun Prancis dan Bengali), dan James Pattle, yang bekerja untuk British East India Company. Mereka terselip dalam apa yang dinamakan Olsen kalau “kelas elit pegawai area Inggris yang hidup seperti bangsawan di tanah Bawahan. Cameron ialah salah satu dari tujuh bersaudara, seluruhnya dididik dengan cara borjuis—yaitu. dengan penitikberatan pada kelas Bersahabat, melainkan Julia Margaret jelas banyak membaca—dan dikenal karena Keanggunan, Varian, dan kecerdasannya.

Pada tahun 1836, Cameron sebagai tidak spontan memperbuat kemenangan menuju karier masa depannya. Saat sembuh dari penyakit di Afrika Selatan, ia bersua John Herschel, seseorang astronom dan fotografer, dan Charles Hay Cameron, calon suaminya.

Pernah persuaan awal mereka, dia dan Herschel berubah surat semasih bertahun-tahun, di mana Herschel merinci eksperimennya dalam fotografi. Baru pada tahun 1863, kala Cameron menggondol pemotret seumpama sumbangan dari putrinya, Julia, dia mulai Sparing. Saat itu dia rampung menjadi ibu dari enam anak, tinggal bersama keluarganya di Freshwater, di Isle of Wight. Suaminya pergi ke Ceylon dan anak-anaknya tinggal mencari ilmu atau berhenti menikah dan memberhentikan rumah. Dengan Tustel, Julia melanjutkan Tulisan, “Mungkin dapat menghiburmu, Bu, mencecap menjepret semasa kesendirianmu di Air Tawar.”

Meski dia terus berkorespondensi dengan Herschel, Cameron perlu belajar sambil Menciptakan. Dia setelah itu menulis, “Saya mulai tanpa pengetahuan tentang seni. Saya tidak tahu di mana wajib menyerahkan kotak gelap saya, bagaimana menitikberatkan pamong saya, dan gambar pertama saya, saya menghapus ketakutan saya dengan menggosokkan tangan saya ke sisi kaca yang tipis.” Cameron menggambarkan bahwa dia bekerja “tanpa kreasi lagi pula tidak putus asa,” mengadaptasi kandang ayam pertanian menjadi studio dan rumah batu bara menjadi kamar gelap. Saat Cameron merasa nyaman dengan medium, dia tetap termotivasi oleh keinginannya untuk Cekal semua Keelokan. Dia menulis, “Dari saat pertama saya menuntun lensa saya dengan kekuatan yang lembut,” Meluaskan, “dan itu telah menjadi bagi saya sekiranya makhluk hidup, dengan suara dan memori dan ketegaran kreatif.”

Pada Januari 1864, Cameron kesannya mempersiapkan satu buah foto yang dikasih judul My First Success: potret dekat Annie Philpot, wanita muda dari suatu suku yang tinggal di dekatnya. Philpot mengintip dengan ambigu dan kabur di luar bingkai, rambutnya visual Morat-marit oleh angin. Gambar berdering dengan sentuhan Cameron; potret tersimpul memiliki animasi lembut yang tidak fokus yang dapat mendefinisikan karyanya, dari potret intimnya hingga gambar teatrikalnya yang lebih alegoris. Semasih satu setengah dekade berikutnya, Cameron bekerja selaku intens dan utama untuk Memperlihatkan, Mendirikan, dan memunculkan karyanya, dan dia meruncingkan gayanya, menerbitkan teman dan keluarganya bila persona sastra dan agama yang memercayakan tema spiritualitas, Feminin, erotisme, Keugaharian, dan kebajikan.

Untuk mata Mutahir, foto-foto Cameron mungkin tampak seperti hantu; ketidakjelasan yang disengaja memberi karyanya rasa keaktifan yang menjepit leher yang serta mengetengahkan dualitas yang melekat padanya. Sentuhan spektral ini, yang merekomendasi kedatangan kehidupan dan Kegiatan, tidak umum dalam fotografi awal. Olsen menulis dalam bukunya bahwa merek ini, Menggalakkan ilusi kehidupan dalam seni yang senantiasa dikaitkan dengan Akhir hayat, seni yang sangat ingin diasosiasikan Cameron dengan keabadian.”

Untuk orang-orang Seera, model Cameron yang tidak fokus terkadang tampak amatir atau “jorok”, seperti yang dikeluhkan satu orang Komentator. Olsen mengizinkan barangkali bahwa uraian ini bisa saja subjektif, pilihan estetika, melainkan mendeskripsikan bahwa, “pada saat itu, bidang fotografi tengah mencicip untuk meraih ceruk distingtif misalnya seni dan seumpama ilmu. Fotografer ingin diliat taruh kata orang yang sangat teknis, berprestasi, dan objektif.” Cameron mencurangi batas-batas itu, sama seperti ia menyelindungkan rumah tangga, bagian Bersahabat, dan seni rupa. Olsen menjelmakan ini kalau ketegangan inti Yang lain, bahwa Cameron tidak mendeskripsikan “budaya tinggi” dari budaya dalam wawasan antropologis yang lebih sehari-hari.

Dalam banyak hal, karya Cameron terjebak di jarak Bagian: hidup dan mati, sains dan seni, seni rupa dan rumah tangga. Dan itu, sekali Tinggal, di mana keindahan masuk.

Dalam banyak hal, karya Cameron terjebak di jarak Jurusan: hidup dan mati, sains dan seni, seni rupa dan rumah tangga (bukan karena semua ini ialah dikotomi sejati). Dan itu, sekali Tinggal, di mana keindahan masuk.

Seperti yang dijelaskan Olsen, separuh sarjana telah mendefinisikan budaya pada zaman Victoria apabila “domain terpecah yang dapat memanusiakan dan dapat melarang metamorfosis ke arah serupa kerusakan mekanis di Inggris pada masa itu.” Budaya yakni Akhlak, penangkal tensi Industrial England. Dan, sementara “budaya” yaitu negeri Laki laki, Keelokan menyampaikan pamor penyembuhan yang terpecah yang tergantung dengan wanita.

Jika keelokan ialah benang yang menyambungkan karya Julia Margaret Cameron, dengan ingatannya bulat dan orang lain, itu bukannya tanpa komplikasi. Namun, strata makna keindahan ini—dan potensi ironi dari penggunaannya—tampaknya bertimbal untuk seseorang fotografer yang mengeraskan ambiguitas dalam alat yang dikenal presisi. Cameron dengan begitu menyurutkan ketegaran tertentu dengan yang melihatnya, untuk merenungkan keindahan dengan versi subjektif mereka wahid yang ditentukan oleh era.

 

joker123
sbobet
PG Slot